Pada periode sebelumnya, ketika Desa Mahal masih dipimpin oleh Kepala Desa Muh. Lukman Laba, ada rencana progresif dari Pemdes setempat untuk memperluas wilayah pasar kaget. Saking semangatnya, Pemdes Mahal periode sebelumnya pun mendatangkan material berupa batu dan pasir di lokasi yang hendak dibangun pasar kaget. Rencananya, akan dibangun tempat penjualan barang warga dengan bentuk fisik permanen.
Walaupun demikian, tak berapa lama kemudian, tercium bau tak sedap yang mengarah kepada konflik horisontal. Mengapa tidak, menurut penjelasan Ketua BPD Desa Mahal, Martinus Meang, usai material didatangkan, BPD menerima surat keberatan dari salah seorang pemilik lahan. Usut punya usut, ternyata Pemerintah Desa Mahal belum menerima surat hibah dari pemilik lahan tetapi nekat mendatangkan material. Selain itu, menurut informasi yang dihimpun, bahwa lahan tersebut bukan hanya milik satu orang warga melainkan beberapa warga.
Mencermati surat tersebut, BPD pun menyampaikan agar Pemerintah Desa Mahal menahan diri untuk melanjutkan pembangunan pasar tersebut. Akibatnya, kini, material berupa pasir dan batu menjadi pemandangan tak sedap bukti Pemerintah Desa Mahal periode sebelumnya gagal membangun pasar kaget sebagaimana diidealkan. Tumpukan pasir dan batu tersebut pun belum dimanfaatkan oleh Pemerintah Desa setempat.
Fransiskus Beni Akan Bertanggung Jawab.
Beban yang ditinggalkan oleh Pemerintah Desa Mahal periode sebelumnya di bawah kendali Muh. Lukman Laba, kini menjadi tanggung jawab Pemdes Mahal yang baru. Kepala Desa Mahal, Fransiskus Beni Orolaleng, saat ditemui di Kantor Desa Mahal, Kamis (10/2) menyatakan siap bertanggung jawab dan akan memanfaatkan material yang tertumpuk di pinggir jalan tersebut.
“Ya, nanti kita alihkan untuk pembangunan lain di desa. Intinya, Pemerintah Desa akan adakan musyawarah bersama BPD untuk dapat kesepakatan agar batu dan pasir tersebut bisa kita fungsikan,” jawabnya menanggapi pertanyaan awak media.
( Antonius Rian / FF )